Nyeri Kepala pada Lansia

  Medikaholistik.com     Jun, 26 2013      163,161 views

Nyeri kepala atau sefalgia adalah suatu kondisi terdapatnya rasa nyeri di kepala, kadang nyeri pada leher bagian belakang atau punggung bagian atas. Kebanyakan nyeri kepala disebabkan oleh kontraksi otot, kelainan pembuluh darah atau keduanya.

Secara garis besar klasifikasi nyeri kepala dibagi menjadi 2, yaitu :


  1. Nyeri kepala primer
    1. Migren.Migren merupakan nyeri kepala berulang dengan serangan nyeri yang berlangsung 4 - 72 jam. Nyeri biasanya unilateral, sifatnya berdenyut, dapat diperberat oleh aktivitas, dan dapat disertai oleh muak dan muntah. Migren terjadi lebih sering pada wanita. Penatalaksanaan migren khususnya pada lansia dapat dilakukan dengan mengonsumsi obat tertentu sesuai anjuran dokter karena ada jenis obat, seperti triptan yang umum dikonsumsi sebagai obat sakit kepala, tetapi tidak boleh sembarangan dikonsumsi oleh lansia.
    2. Tension type headache adalah suatu keadaan yang melibatkan sensasi nyeri atau rasa tidak nyaman di daerah kepala, kulit kepala, atau leher yang biasanya berhubungan dengan ketegangan otot di daerah ini. Lebih sering terjadi pada lansia dari pada populasi yang lebih muda. Menurut data yang ada, prevalensi menderita sakit kepala jenis ini pada laki-laki sebesar 69%, sedangkan pada wanita sebesar 88%. Peranan faktor emosional / psikologis diketahui dapat berpengaruh terhadap nyeri kepala pada seseorang.

      Untuk pengobatan tension type headache dapat dilakukan dengan mengonsumsi obat analgesik (penahan rasa sakit) biasa. Akan tetapi untuk mengurangi kekambuhan harus disertai dengan cara lain, seperti relaksasi, terapi biofeedback, dan kadang-kadang menggunakan obat antidepresan. Terapi fisik, seperti biofeedback, fisioterapi terapi relaksasi dapat membantu pada kasus pasien yang tidak dapat merelaksasikan otot-ototnya.
    3. Nyeri kepala klaster adalah jenis nyeri kepala yang berat, unilateral yang timbul dalam serangan-serangan mendadak, sering disertai dengan rasa hidung tersumbat, keluar ingus (rinore), keluar air mata dalam jumlah banyak (lakrimasi), dan injeksi konjungtiva (mata merah) disisi nyeri. Nyeri kepala ini ditandai dengan rasa nyeri luar biasa yang ditimbulkan sehingga sering disebut "sakit kepala bunuh diri". Jarang terjadi pada orang tua, tetapi 4% lansia tercatat mengunjungi klinik karena menderita nyeri kepala klaster. Pengobatan dapat dilakukan dengan mengonsumsi obat tertentu sesuai anjuran dokter karena obat tersebut memiliki efek samping yang cukup berbahaya sehingga tidak boleh dikonsumsi oleh orang yang mengidap gangguan vaskuler (peredaran darah), jantung, serebral (otak), menderita penyakit ginjal atau hati, pada wanita hamil, orang yang infeksi dan masa pasca bedah.

  2. Nyeri kepala sekunder
    1. Obat berlebihan (drug overuse).Pasien lansia diketahui dapat mengonsumsi sepertiga dari semua resep obat sehingga dikhawatirkan dapat menderita rebound headache. Seperti pasien yang lebih muda, obat yang umum diberikan untuk lansia adalah over-the-counter analgesik, obat kombinasi senyawa yang mengandung ergotamine, triptans, dan narkotika. Penggunaan obat tersebut penting untuk ditapering dan dihentikan penggunaannya jika tidak mutlak dibutuhkan.
    2. Temporal (giant cell) artritis. Nyeri kepala adalah gejala yang paling umum dan alasan utama pasien dengan GCA datang ke ahli saraf. Karena gejala yang paling umum adalah nyeri kepala, GCA harus dipertimbangkan pada setiap lansia dengan nyeri kepala onset baru atau perubahan pada nyeri kepala yang sebelumnya dalam bentuk stabil, adanya klaudikasi rahang, penurunan berat badan, penurunan fungsi pengkihatan, demam atau anemia (kekurang darah) yang berkepanjangan, atau laju sedimentasi (pengendapan) sel darah merah/eritrosit yang tinggi. Gejala lain GCA adalah hilangnya penglihatan pasien. Jika terdapat dua gejala tersebut, yaitu nyeri kepala dan hilangnya penglihatan, maka dapat dilakukan pemeriksaan tingkat sedimentasi eritrosit untuk mengetahui apakah pasien tersebut menderita GCA.
    3. Exploding Head Syndrome. Tipe ini biasanya jarang terjadi, tetapi lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria. Umumnya terjadi pada orang yang berusia lebih dari 50 tahun. Saat pasien tertidur, mereka bisa terbangun karena sensasi suara keras atau ledakan di kepala mereka. Sensasi ini dapat terjadi beberapa kali per malam dan dapat bertahan selama beberapa bulan. Mekanisme penyakit ini tidak diketahui secara jelas, tetapi mungkin berhubungan dengan gangguan tidur yang terjadi pada seseorang. Pengobatan yang disarankan adalah pasien menenangkan dirinya.
    4. Lesi nyeri kepala (Lesional Headache). Kejadian meningkat seiring dengan bertambahnya usia sebagai akibat penyakit intrakranial. Lansia lebih rentan terhadap berkembangnya sub-dural hematoma (penimbunan darah dalam rongga sub-dural) atau tumor otak. Nyeri kepala akibat tumor otak tidak mudah diidentifikasi dengan gejala, seperti nyeri kepala parah yang lebih buruk terjadi di pagi hari disertai muntah. Bahkan sakit kepala jenis ini banyak disalah-artikan dengan tension-type headache. Untuk mengetahui apakah nyeri kepala tersebut merupakan lesi dari tumor otak, dapat dilakukan pemeriksaan MRI dengan gadolinium

Share :