Demam Berdarah & Flu Burung

  dr. Sheila Agustini     Jul, 10 2013      136,276 views

Musim kemarau telah berlalu dan kita memasuki musim penghujan. Di beberapa daerah di Indonesia dilaporkan curah hujan cukup deras bahkan diantaranya hingga menimbulkan banjir yang meresahkan. Selain bahaya banjir yang mengancam, kita harus bersikap waspada terhadap penyakit. Kekebalan tubuh cenderung menurun di tengah musim hujan karena tubuh harus melakukan adaptasi terhadap perubahan suhu dan kelembaban udara. Penurunan kekebalan tubuh ini menyebabkan kita menjadi lebih rentan terhadap penyakit yang sering muncul di musim hujan seperti demam berdarah dan flu burung (bird flu).

Demam Berdarah

Demam berdarah atau DBD adalah penyakit akibat virus Dengue yang ditularkan melalui perantara nyamuk Aedes aegypti. Pada saat ini, pasien penderita demam berdarah terus meningkat secara signifikan bahkan di propinsi DKI Jakarta tercatat 1.752 penderita-8 diantaranya meninggal-yang dirawat akibat demam berdarah sejak awal Januari lalu. Penyakit ini jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan komplikasi yang serius bahkan berakhir pada kematian.

Seseorang dapat tertular penyakit DBD akibat terjangkit virus melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang memiliki ciri-ciri berbadan hitam dengan bintik-bintik putih dan menggigit pada siang hari. Nyamuk ini tinggal di dalam dan di sekitar rumah serta bersarang/bertelur di genangan air yang bersih/jernih, senang hinggap pada pakaian yang bergantungan di kamar. Nyamuk bertelur di permukaan air lalu berkembang menjadi jentik, pupa, akhirnya menjadi nyamuk dewasa dalam waktu kira-kira 10 hari.

Gejala biasanya dirasakan oleh penderita dalam waktu 7 hari setelah virus masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk berupa :

o Panas tinggi yang mendadak 2-7 hari
o Sakit kepala
o Mual
o Nyeri ulu hati
o Tanda-tanda perdarahan seperti :
o Bintik-bintik merah di kulit yang tidak hilang dengan penekanan
o Perdarahan dari hidung/mimisan
o Gusi berdarah
o Berak darah, muntah darah
o Pada kasus berat, kesadaran penderita semakin menurun, sesak nafas, tangan dan kaki berkeringat dingin.

Bila ditemukan gejala-gejala tersebut, segera lakukan pertolongan pertama pada penderita yang mungkin menderita penyakit demam berdarah seperti :

o Memberi minum sebanyak mungkin
o Obat penurun panas, dapat dibantu dengan kompres
o Selanjutnya penderita segera di bawa ke dokter/Puskemas yang terdekat untuk diperiksa. Bila diduga menderita Demam Berdarah, penderita akan dikirim ke RS untuk dirawat.

Mengingat demam berdarah merupakan penyakit yang dapat berakibat fatal, upaya pencegahan memegang peranan yang sangat penting. Pencegahan dilakukan dengan melakukan tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Tindakan PSN adalah cara yang terbaik, ampuh, murah, mudah dan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

o Gerakan 3 M "Menguras, Menutup, Mengubur"
o Menguras. Bersihkan (kuras) tempat penyimpanan air (bak mandi, drum,dll) sekurang-kurangnya 1x/minggu. Gantilah air di vas kembang, tempat minum burung, perangkap semut dll sekurang-kurangnya 1x/minggu.
o Menutup. Tutuplah rapat-rapat tempat penampungan air seperti tempayan, drum dll agar nyamuk tidak masuk dan berkembang biak di tempat itu.
o Mengubur. Kubur/buanglah barang-barang bekas seperti kaleng, ban, botol dll yang dapat menampung air hujan agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
o Untuk tempat yang tidak mungkin atau sulit dikuras, dapat dilakukan abatisasi setiap 2-3 bulan sekali dengan menggunakan bubuk ABATE untuk membunuh jentik-jentik nyamuk.
o Cara Penggunaan : Larutkan bubuk ABATE (dengan takaran 10 liter air = 1 gram bubuk ABATE) dalam genangan air.
o Selama 3 bulan bila tempat penampungan air akan dibersihkan/diganti airnya, hendaknya dinding tempat penampungan air tidak disikat.
o Air yang telah dibubuhi bubuk ABATE dengan takaran yang benar, tidak membahayakan dan tetap aman bia air itu diminum.
o Penyemprotan/fogging untuk membunuh nyamuk dewasa

Flu burung

Flu burung/bird flu (avian influenza) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus pada burung/unggas. Virus ini dapat ditemukan pada air liur, sekresi pernafasan dan kotoran burung/unggas. Terdapat 15 subtipe virus flu burung namun penyakit yang sering dibicarakan pada saat ini yang berasal dari infeksi virus H5N1. Tingkat kematian akibat flu burung yang disebabkan virus ini pada manusia sangat tinggi. Berdasarkan penelitian WHO yang dilakukan di Vietnam, dari 10 penderita flu burung, 8 orang meninggal, 1 orang sembuh dan 1 dalam kondisi kritis. Sampai saat ini manusia terjangkit melalui unggas dan belum ada bukti penularan antar manusia. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa virus flu burung dapat bermutasi menjadi varian baru sehingga virus dapat menular melalui antar manusia dan menjadi wabah di dunia.

Manusia dapat tertular flu burung jika terkena kontak dengan burung & unggas yang sakit. Penyebaran penyakit flu burung jelas melintasi batas Negara (pandemi). Kasus flu burung akibat infeksi virus H5N1 dilaporkan di Indonesia pada bulan Agustus 2003. Sampai saat ini total kasus infeksi di Indonesia akibat flu burung pada manusia mencapai 80 kasus dan 62 diantaranya menyebabkan kematian. Selama musim hujan seperti sekarang, masyarakat diharapkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus flu burung. Hal ini disebabkan daya tahan virus H5N1 pada musim hujan/musim dingin meningkat sedangkan daya tahan tubuh manusia pada musim hujan akan turun sehingga mudah terinfeksi.

Flu burung banyak menyerang anak-anak <12 tahun. Hampir separuh kasus flu burung pada manusia menimpa anak-anak karena sistem kekebalan tubuh anak-anak belum kuat. Gejala flu burung pada manusia menyerupai gejala flu pada umumnya seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan dan batuk tetapi kondisi penderita sangat cepat menurun drastis akibat peradangan di paru-paru (pneumonia). Pada keadaan berat, kesadaran penderita semakin menurun, sesak nafas yang bila berlanjut menjadi gagal nafas yang menyebabkan kematian.

Gejala yang terjadi pada manusia yang menderita flu burung :

-Demam (suhu badan diatas 38 C)
-Nyeri otot
-Lemas
-Tidak nafsu makan, muntah, diare, nyeri perut
-Sakit kepala
-Infeksi mata
-Batuk dan nyeri tenggorokan
-Peradangan paru-paru (pneumonia)

Sampai saat ini belum ditemukan obat yang spesifik untuk flu burung. Terapi yang diberikan berupa anti virus seperti oseltamivir (TamifluŠ), antibiotik dan obat-obatan yang bersifat suportif meredakan gejala batuk, sakit kepala dll. Upaya pencegahan penularan harus dilakukan dengan cara menghindari bahan yang terkontaminasi kotoran dan sekret unggas mengingat belum ada obat yang spesifik untuk penyakit ini. Para peneliti sedang mengembangkan vaksin yang dapat melindungi kita dari flu burung sementara itu kita harus melakukan tindakan pencegahan seperti :

o Diri sendiri
o Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi dan istirahat cukup.
o Mengolah produk unggas/burung dengan memasak sampai matang (goreng, rebus, panggang) karena virus H5N1 mati pada suhu tinggi tersebut.
o Rajin cuci tangan dengan sabun/cairan antiseptik
o Bersihkan permukaan dengan deterjen, cairan alkohol 70%, pemutih/khlorin 0.5%
o Gunakan penutup mulut dan hidung, sarung tangan dan sepatu boot bila memasuki daerah yang telah terjangkit virus flu burung
o Amati dengan teliti kesehatan anda apabila telah melakukan kontak dengan unggas/burung. Segera pergi ke pusat kesehatan terdekat bila timbul gejala demam, infeksi mata, dan/atau kesulitan bernafas.
o Lingkungan
o Menjaga kebersihan lingkungan (khususnya kandang unggas dan burung)
o Menjauhkan kandang unggas (ayam, itik, dll) dari tempat tinggal
o Gunakan penutup hidung dan sarung tangan bila akan mengolah tanaman dengan pupuk kandang
o Jangan membuang kotoran (jeroan, bulu ayam, dll) sembarangan tetapi dibungkus plastik serta dibuang di tempat yang aman.
o Bersihkan makanan ternak/burung yang tercecer di tanah/lantai agar tidak mengundang burung liar dating


Dr. Sheila Agustini, SpS
RS Omni Alam Sutera / RS Mayapada Lebak Bulus

Share :